Tentang Dia
Hari ini, bolehkan saya bertutur tentang dia.
Seseorang yang tidak pernah saya mengerti sesungguhnya. Orang yang memikul beban berat seumur hidupnya. Namun terlambat dihargai sepenuhnya.
Ini kisah tentang Papa saya. Bukan kisah hidupnya, tapi kisah kegagalan saya menghargainya, dan mewujudkan mimpi-mimpinya terhadap saya.
Papa adalah laki-laki sesungguhnya. Penafkah ulung yang bekerja keras sepanjang hidup, melakukan segala sesuatu sesuai standard kesempurnaannya. Jika sesuatu layak dilakukan, ia harus dilakukan dengan benar. Seorang perfeksionis.
Papa adalah laki-laki yang kekuatan pikiran dan semangat hidupnya mengalahkan semua hambatan. Ketika cobaan datang, tidak pernah sedetik pun saya tahu kalau Papa punya masalah.
Sambil ia memanggul sebuah keluarga besar: seorang istri calon penghuni surga, dan tiga anak pemberontak yang sedetikpun tak berhenti memberinya masalah berat.
Papa yang hampir tidak pernah mengeluh sakit, meskipun wajahnya menunjukan kelelahan yang sangat, meski beliau perokok, penggemar sop kaki kambing. “penyakit itu harus dilawan!”
Namun mungkin, cobaan terberat yang pernah ia terima tak lain adalah anak-anak yang tidak mengerti dia.
Ketika kekerasan hatinya saya terjemahkan sebagai Papa yang pemarah.
Ketika larangannya saya artikan sebagai Papa yang tidak mau mengerti.
Ketika perintah-perintahnya saya tangkap sebagai Papa yang kejam dan otoriter.
Ketika niatnya untuk berbincang akrab tidak saya indahkan karena rasa tidak nyaman tanpa alasan yang menyungkupi tempurung pikiran saya sendiri.
Ketika keinginannya akan kesempurnaan saya uraikan sebagai Papa yang sulit dipuaskan.
Saat Papa pergi, jejak-jejak kesempurnaan yang ditinggalkannya membuat hidup anak-anaknya menjadi sangat mudah. Dokumen yang tersusun sempurna, lengkap sempurna. Perencanaan berbagai urusan yang matang sempurna. Bahkan kematiannya ia siapkan dengan sempurna.
Hari ini, adalah ulang tahun Papa.
Saya menangis tak berhenti ketika menuliskan ini. Sambil susah payah mengatur nafas, mengimbangi sesak yang kian mengilu memeras dada. Berkali-kali saya harus berhenti, untuk tersengguk keras bagai bocah kecil putus asa. Karena saya tidak pernah sanggup berkisah tentang Dia. Saya kerap menunggu. Berharap mungkin kelak, ketika sisi manusia saya sudah bertumbuh lebih kuat, saya akan menuliskannya. Dan itu akan jadi pencapaian terbesar yang pernah saya buat.
Karena menuliskannya, berarti saya mengerti. Dan tiba di ujung perjalanan luka, yang masih menganga karena sesal tak berkesudahan.
Pada akhirnya, yang tidak saya mengerti adalah diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya meragukan kualitas seseorang yang bacaan favoritnya adalah buku-buku Agama dan tafsir Al-Qur’an?
Papa, saya mengerti sekarang.
———–
Tolong hentikan air mata ini, ya Allah. Izinkan saya berdamai dengan diri sendiri. Izinkan saya berkumpul dengan mereka lagi kelak.
———–
Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then
Spin me around till I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure
I was loved
If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love to dance with my father again
When I and my mother would disagree
To get my way I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me, yeah, yeah
Then finally make me do just what my mama said
Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he
Would be gone from me
If I could steal one final glance
One final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love to dance with my father again
Sometimes I’d listen outside her door
And I’d hear her, mama cryin’ for him
I pray for her even more than me
I know I’m prayin’ for much too much
But could You send back the only man she loved
I know You don’t do it usually
But Lord, she’s dyin’ to dance with my father again
Every night I fall asleep
And this is all I ever dream
(Dance with My Father - Luther Vandross)
on November 22nd, 2007 at 3:30 am
“Ketika kekerasan hatinya saya terjemahkan sebagai Papa yang pemarah.
Ketika larangannya saya artikan sebagai Papa yang tidak mau mengerti.
Ketika perintah-perintahnya saya tangkap sebagai Papa yang kejam dan otoriter.
Ketika niatnya untuk berbincang akrab tidak saya indahkan karena rasa tidak nyaman tanpa alasan yang menyungkupi tempurung pikiran saya sendiri.
Ketika keinginannya akan kesempurnaan saya uraikan sebagai Papa yang sulit dipuaskan.”
Jujur… Aku banggga… tulisan ini bisa di kemukakan oleh Istri Ku… tulisan yang amat dalam… tulisan yang pernah kurasakan disaat kesendirian ku lewati dalam hidup yang amat sangat keras…
ini bisa jadi basis analog terindah buat semua orang disisi terdekat Bunda (u hunny) (keluarga) dan seluruh kerabat kamu… cinta ku…
Papa… seorang sosok yang ku kenal dengan waktu yanga amat singkat… seorang yang kutangisi sewaktu jasadnya ku peluk… seorang yang sempat ku takuti karena kharisma yang dipancarkannya… satu sosok hangat yang merangkul aku, dan menaruh tanggungjawab besar di pundak ini…
Kini ku memegang perannya sebagai imam untuk anak sulung nya… disaat aku belum puas untuk belajar darinya cara tuk menjadi Imam yang benar… yang ku coba hanya berdasar intuisi yang dilandaskan iman serta topangan rasa cinta… Belajar dari Mu Ayah… Ku kan menjadi seorang lelaki yang menaruh cinta dalam hati sang istri…
dan aku berdiri hari ini… untuk meneruskan apa yang yang pernah beliau perjuangkan… Kebahagiaan Haqiqi… kebahagiaan dimata Illahi…
Kebahagiaan Hati…
Salam Manisku Ya Allah tuk Ayahanda ku tercinta… nanti ku kan menyusulnya… dan pasti bertemu dengannya… karena aku adalah Anaknya yang masih haus akan cintanya…
on November 22nd, 2007 at 3:43 am
aku sih yakin, apa yg udah Chichi capai hingga saat ini, pasti udah membuat alm Aa’ kesayangan Mamahku bangga. tunggu sampai kelian bedua ngerasain jd orangtua, wiih.. pokoknya gatau malu deh kalo masih berani sok2an sama orang2 yg pernah nyebokin kita waktu kecil dulu ;p
on April 30th, 2008 at 12:26 am
aku sebagai orang tua baca tulisan itu merinding….sungguh penulisnya cukup pintar mendiskripsikan keadaan. Comment isi itulah dunia yang tidak mutlak, selalu nisbi, relatif, kuramh dhoif. Hanya Tuhan robbul izzati yang kekal dan sempurna salam utk penulis.